Download hasil survei dalam format excel di sini
abdi alumni 2006… pokona mah smansa is the best…
kanggo rerencangan sadaya nu minat pnya usaha sampingan, klik
Sampurasun…..!
Nepangkeun, sim kuring Raden Warsa Sumidabihbrata, alumni SMANSA Taun 98. Kaleresan, nembe teh muka-muka google, ngahaja sih..sareng rencang malah raka kelas sim kuring tegesna alumni SMANSA angkatan 94. Blusss..we sim kuring abus ka ieu situs. Nya… kuring salaku alumni SMANSA geus tangtu boga rasa tanggung jawab keur ngamumule SMANSA..kitu nya.. lur.
Sabenerna… sim kuring hayang ngabarabatkeun pangalaman-pangalaman nalika diuk di bangku sakola.. ngan kumargi waktos tos nyerelek ka maghrib, cag heula ah..urang tunda dihanjuang siam tendeun di handeuleum sieumm geusan sampeureun isuk jaganing geto..
Sakitu heula ah..lur!
NB: cik ah panglongokeun http://kpu-sukabumikota.go.id atanapi http://warsa.wordpress.com
Seleksi Masuk Universitas Indonesia (SIMAK UI) sudah dimulai pendaftarannya sejak 19 Januati lalu. Pendaftaran akan berakhir pada 19 Februari 2009 yang akan datang. Rencananya SIMAK UI diselenggarakan oleh panitia lokal di 30 lebih kota di seluruh Indonesia.
Nah, buat pendaftar dari Sukabumi yang mau ikut SIMAK sekarang tidak perlu lagi ke Bogor atau Bandung untuk ikut ujian. Dari situ penerimaan.ui.ac.id disebutkan, lokasi ujian juga akan dilaksanakan di Kota Sukabumi. Informasi lihat di sini.

Koran Kompas edisi Sabtu, 3 Januari 2009, menurunkan laporan tentang objek wisata di sekitar Sukabumi. Meski di ujung liburan akhir tahun, tak ada salahnya jika menyimak ulasannya.
Yuk, ke Sukabumi…!
Libur akhir tahun sudah hampir lewat. Namun, warga Jakarta masih memilih Puncak sebagai tempat berlibur. Padahal, tidak jauh dari Puncak, kawasan Sukabumi yang terletak di kaki Gunung Gede-Pangrango bisa menjadi alternatif tempat berlibur yang menyenangkan.
Kurangnya pelancong ke Sukabumi karena mereka takut terjebak kemacetan lalu lintas menuju tempat wisata. Satu-satunya alternatif menuju lokasi-lokasi wisata di Sukabumi dari arah Jakarta memang hanya Jalan Raya Bogor-Sukabumi. Di jalan itu setidaknya terdapat tiga pasar dan beberapa pabrik. Akibatnya, pelancong yang menuju Sukabumi kerap terkena macet di titik-titik tertentu.
Selain itu, pemakai jalan juga harus berbagi jalan dengan truk pengangkut air mineral, yang jumlahnya puluhan. Namun, rasa penat akibat antrean macet akan terbayarkan dengan keindahan alam di lokasi-lokasi wisata yang sebagian besar terletak di kaki Gunung Gede-Pangrango.
Tempat wisata itu antara lain Danau Lido, Situ Gunung, Selabintana, dan Pondok Halimun. Keempatnya memberikan keindahan pemandangan kaki gunung yang hijau, liar, dan belum tersentuh dengan desain-desain bangunan yang modern. Sungguh berbeda dengan kawasan Puncak yang sudah seperti kota modern di atas gunung.
Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di lokasi ini, seperti menjelajah danau, tracking ke hutan, sungai, dan air terjun, dan juga terbang dengan pesawat ultralight.
”Keliling Danau Lido pakai perahu asyik banget, deh. Nanti kita juga bisa berhenti di restoran di seberang sana itu, restoran apung,” kata Nindya Sunu (10). Bagi bocah asal Jakarta ini, berekreasi di Danau Lido di Jalan Raya Bogor-Sukabumi Kilometer 21, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cijeruk, Bogor, memang amat berkesan. Dia bermain bola, menerbangkan layang-layang, dan tentu naik perahu menjelajah danau yang masih tampak liar.
Danau Lido adalah danau alam yang terletak dekat perbatasan antara Bogor dan Sukabumi, Jawa Barat. Danau ini bisa menjadi persinggahan yang menyenangkan dalam perjalanan dari Jakarta ke Sukabumi. Namun, jika ingin melewatkan hari libur di sini pun bisa. Selain restoran apung tepat di sisi kiri jalan dari arah Jakarta, ada juga kawasan Lido Lakes Resort yang telah ada sejak 1935.
Kawasan wisata ini bisa dicapai dengan mudah, baik bagi yang naik kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Tersedia fasilitas menginap dan aneka atraksi cukup lengkap di Lido Lakes Resort dengan kisaran harga murah hingga yang terbilang mahal. Pilih saja, mau menginap di vila atau cottage bersih dan nyaman yang dibangun semasa Presiden Soekarno atau di resor modern.
”Di antara vila-vila di sini, ada yang diberi nama Vila Megawati, yang memang dibangun dan diperuntukkan bagi Megawati oleh ayahnya, Presiden Soekarno, pada tahun 1950-1960-an. Wisatawan yang berminat bisa menyewa vila ini,” kata Yusuf Makalalag, Manajer Operasional Lido Recreation Centre, Lido Lakes Resort, pertengahan Desember lalu.
Dengan fasilitas hotel berbintang, tersedia lapangan golf bagi wisatawan, paralayang, paragliding, dan pesawat ultralight. Berkeliling kawasan pegunungan ini dengan pesawat ultralight hanya perlu biaya Rp 300.000- Rp 400.000 per 15 menit terbang.
Situ Gunung
Jika ingin menikmati suasana pegunungan yang lebih kental, lanjutkan saja perjalanan ke Taman Wisata Alam Situ Gunung, bagian dari Taman Nasional Gede-Pangrango di Sukabumi. Letaknya sekitar 123 kilometer dari Jakarta, tepat sebelum Pos Polisi Sektor Cisaat, pelancong harus berbelok ke timur menuju kaki Gunung Gede-Pangrango. Jarak tempuh dari Cisaat ke Situ Gunung kira-kira 7 kilometer.
Situ Gunung yang terletak di Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, ini berada di ketinggian 950-1.150 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara 16-28 derajat celsius.
Berada di kawasan wisata seluas hampir 120 hektar, banyak yang ditawarkan dalam wisata alam Situ Gunung. Yang terasa begitu istimewa di kawasan ini tentu saja pemandangan alam berupa danau seluas 6 hektar, Situ Gunung. Keindahan makin lengkap dengan adanya air terjun yang disebut Curug Sawer. Jika mengunjungi obyek wisata ini, bukan hanya pemandangan indah yang ditawarkan, tetapi sekaligus rute tracking melewati membelah bukit dan pinggir danau.
Sambil berjalan menikmati keindahan alam pegunungan ini, pelancong bisa melihat dari dekat flora yang tumbuh di Situ Gunung, di antaranya puspa (Schima walichi), rasamala (Altingia exelsa), damar (Agathis loranthifolia), saninten (Castania argantea), gelam (Eugenia fastigiata), lemo (Litsea cubeba), dan harendong cai (Medinela speciosa). Jika beruntung, pelancong bisa melihat babi hutan, kijang, macan tutul, kera, surili, jaralang, trenggiling, ayam hutan, dan tekukur.
Pondok Halimun
Tempat lain yang tak kalah menawan adalah Pondok Halimun, yang berjarak sekitar 5 kilometer arah barat laut Selabintana. Setelah melewati perkebunan teh yang menghijau di daerah Perbawati, wisatawan akan mendapatkan keteduhan di Pondok Halimun.
Di tempat wisata yang berada tak jauh dari gerbang masuk Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango ini, wisatawan akan mendapatkan tempat beristirahat yang amat teduh dan sepi. Ditemani aliran hulu Sungai Cipelang yang jernih, wisatawan bisa mendapatkan kesegaran.
Jika sedang beruntung, wisatawan bisa menyaksikan atraksi kawanan monyet jenis lutung dan surili di dekat pintu masuk taman nasional. Di Pondok Halimun, wisatawan sering menghabiskan waktu untuk makan bersama perbekalan dari rumah. Penduduk Sukabumi biasa menyebutnya dengan ngaliwet, menu makanan yang terdiri dari nasi liwet, ikan asin bakar, tahu atau tempe goreng, sambal, dan lalap.
Wisatawan juga bisa memesan kepada penduduk sekitar ketika berkunjung ke Pondok Halimun. Di Pondok Halimun, udaranya amat dingin sehingga tak sedikit yang senang menikmati jagung bakar.(AGUSTINUS HANDOKO)
Ssumber: Kompas.com
Tahun 2009, Universitas Indonesia (UI) akan mengadakan seleksi masuk sendiri bernama SIMAK UI. Seleksi yang rencannya diselenggarakan di 40 kota ini merupakan pengganti UMB pada 2008. Informasi yang didapat dari intel website ui menyebutkan, kuota SIMAK UI nantinya merupakan 56% calon mahasiswa baru UI. Sisanya diambil dari jalur SNMPTN dan PPKB masing-masing 14% dan 30%. Informasi terbaru juga menyebutkan program D3 UI tetap ada yang disebut dengan program vokasi.
Seleksi akan dilaksanakan pada hari Minggu, 1 Maret2009. Bagi yang membutuhkan brosur SIMAK UI bisa download di sini.
Informasi lengkap silakan mengunjungi web SIMAK UI
Basa na Salasa jam dalapan Mang Dadang ngahaja jalan ka pasar Majalaya hayang balanja lalab-lalaban jang sarapan. Barang datang ka pasar nyampak kang Dana mamawa anakna balanja kalapa salapan.
Mang Dadang :”Naha kang balanja kalapa? Kan kang Dana aya tangkalna dalapan?”
Kang Dana :”Ah … nya jang babawaan ka bapa mang, bapa saya hayang martabak kalapa…mang Dadang balanja lalab? Mana samarana?”
Mang Dadang :”Aya tah laja … salam.”
Kang Dana :”Naha laja salam, mang Dadang tara masak nya? Tah bawa kalapa jang lalab mah.”
Mang Dadang :”Nya lah ngajaran dahar lalab aya kalapaan …. mangga Kang.”
Kang Dana :”Mangga….”
Mang Dadang kapaksa mamawa kalapa, padahal kahayangnamah mamawa samangka sakaranjang jang anak-anakna. Kang Dana mapay-mapay jalan satapak, rada hanjakal mamawa kalapana ngan dalapan… TAMAT… dadaaaah
diculik ti: ketawa.com
Ada-ada saja! Kisah menggelikan ini tak masuk akal. Namun benar-benar terjadi di Amerika Serikat (AS).
Seorang anggota parlemen di negara bagian Nebraska, AS, Ernie Chambers mengajukan gugatan terhadap Tuhan.
Tentu saja, gugatan itu ditolak pengadilan. Menurut Hakim Pengadilan Distrik Douglas County, Marlon Polk, kasus ini tidak dapat dilanjutkan karena Tuhan tidak bisa dihubungi petugas pengadilan dikarenakan alamat rumahnya tidak terdaftar.
Demikian seperti diberitakan media lokal, Omaha World-Herald, Kamis (16/10/2008).
Gugatan itu telah diajukan Chambers pada September 2007. Chambers menggugat Tuhan karena telah menyebabkan peristiwa kekerasan seperti badai tornado dan gempa bumi, yang telah menimbulkan ketakutan dan menyebabkan “kematian massal, kehancuran, dan aksi teroris jutaan penduduk Bumi.”
Sebelumnya, pengadilan telah mengingatkan Chambers bahwa gugatan itu bakal dibatalkan. Sebab dia tak bisa memberitahu Tuhan soal gugatan itu. Namun Chambers berdalih, Tuhan tak perlu diberitahu karena Dia mengetahui segalanya.
“Karena Tuhan maha mengetahui segala sesuatu, Tuhan pasti juga tahu tuntutan ini,” tutur Chambers yang telah menjadi anggota parlemen Nebraska selama 38 tahun.
Menurut Chambers, maksud gugatannya adalah dia ingin menunjukkan bahwa siapapun bisa punya akses ke pengadilan, baik kaya maupun miskin.
Dengan putusan ini, Chambers belum memutuskan apakah akan mengajukan banding atau tidak. Dia punya waktu 30 hari untuk mempertimbangkannya.
Berita ini disulik dari sini dari detik
Sebenarnya lumayan banyak ikon yang melekat dengan Sukabumi. Mulai dari Gunung Gede, Pantai Pelabuan Ratu, Sungai Citarik tempat arung jeram, hingga kue moci yang sampai sekarang bungkusnya tetap dari bambu itu. Tapi tidak akan lengkap jika menyebut nama Sukabumi tanpa mengabsen nama Desi Ratnasari dan (alm) Mak Erot.
Desi Ratnasari cukup lama menjadi artis ngetop di negeri ini. Film-film layar lebar yang dibintangi Desi sejak SMA membuat namanya melambung tinggi. Saat industri film tenggelam, Desi pindah panggung ke dunia sinetron. Sebagai artis, kehidupannya semakin dikenal publik setelah dia beberapa kali gagal mempertahankan bahtera rumah tangga. Meski terkenal kurang ramah dengan pekerja media, tapi publik umumnya tahu kalau Desi adalah artis asal Sukabumi.
Tapi belakangan sang artis kalah pamor dari “artis” lain pendatang baru. Dia adalah Mak Erot, yang karena sekarang sudah tiada, banyak yang menyebutnya sebagai legenda bagi kaum pria. Berbeda dengan legenda Nyi Roro Kidul –yang sama-sama menghuni pantai selatan– Mak Erot adalah legenda masa kini. Konon banyak lelaki kehilangan dan bergumam: Oh, Mak Erot Jasamu Tiada Tara!
Boleh dibilang, “value” legenda asal Desa Caringin, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, itu memang lebih tinggi ketimbang Desi. Jika keartisan Desi tak bisa dipindahtangankan, “brand” Mak Erot justru terus hidup karena diwariskan kepada anak-anaknya. Tak heran, sejumlah berita melaporkan, ribuan pelayat hadir saat mengantarkan Mak Erot ke peristirahatan terakhir.
Jadi, saat terkenang Sukabumi, teringat Desi atau Mak Erot nih?
Beberapa kali mengunjungi official site SMA 1 Sukabumi, baru tadi malam ketemu sesuatu yang baru. Apa itu? (Maaf kalo sudah pada tahu) Saya jumpa dengan daftar guru dan karyawan smansa saat ini. Kalo nggak melotot liatnya–percaya atau tidak–kayaknya susah juga tuh nemuin link
Ada sesuatu yang baru karena di situ Bapak dan Ibu guruku “mejeng” dengan foto terbaru mereka. Beda dengan belasan tahun lalu ketika mula pertama jumpa, sekarang pahlawan-pahlawan pendidikan itu sudah tampak sepuh. Ya.. iyalah muridnya aja sekarang sudah pada punya keturunan dan ubanan he..he..
Yang tampak beda dan selalu kuingat adalah Bu Agnes Sartika. Maklum beliau ini dulu wali kelas abdi upami teu lepat. Ceritanya, dulu ada dua guru dengan nama Agnes yang agamanya beda. Bu Agnes Sartika ini kasih disclaimer, meski nama dari orang tuanya seperti itu tapi beliau adalah muslimah tulen. Apalagi.. duh sekarang ini Bu Agnes fotonya sudah legkap dengan kerudung
Lain lagi dengan Pak Edi Mulyana yang –mohon maaf kalo salah — guru fisika (Belum ganti lakon kan Pak?). Ah, ari inget baheula sok asa hoream. Bayangkeun.. belajar fisika pada siang yang panas selepas istirahat. Apalagi, sakali waktu, aya PR alias pekerjaan rumah.
Saperti biasa Pak Edi muteran meja barudak. Pas giliran meja abdi, Pak Edi nagarorisna serius jeung bari rada
dongko. Terus nyarita kieu: “Maneh ngarokok nya?”
Upss… kanyahoan yeuh. Meureun dina saku baju teh masih aya sesa-sesa bako anu murag tina rokok nu
diisep tadi
. Jaman harita, barudak nu balageur biasa ari istirahat teh sok ngadon ngudud di tukangeun kantin sakola atawa di warung seberang masjid Bahrul Ulum. Meureun da harita mah tacan aya peringatan pemerintah yen merokok berbahaya bagi kesehatan he..hee.
Ah, sabenerna masih loba carita jaman ngora teh. Tapi keun urang nungguan nu sejen heula medar lalampahan jaman baheula tea…
)





