Sukabumi, Kompas – Pengembangan properti di Sukabumi terkendala infrastruktur jalan. Ketersediaan jalan yang memadai dinilai akan menjadi daya ungkit bisnis properti, terutama di kawasan pengembangan permukiman.
Kepala Seksi Tata Ruang Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Sukabumi Baban Nurbana, Kamis (12/11), mengatakan, kawasan hunian baru di Kota Sukabumi diarahkan ke Kecamatan Lembursitu, Cibeureum, dan Baros. “Kawasan lain di pusat kota sudah sangat padat sehingga ketiga kecamatan itu menjadi pilihan yang pas karena masih relatif sepi,” kata Baban.
Pemerintah Kota Sukabumi optimistis pengembangan kawasan hunian atau permukiman ke ketiga kecamatan di bagian selatan Kota Sukabumi itu mampu mendongkrak aktivitas ekonomi. “Logikanya, kalau suatu kawasan jadi daerah permukiman, aktivitas ekonomi pasti akan meningkat dari sebelumnya,” katanya.
Pengembangan kawasan hunian ke arah selatan itu juga ditunjang rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat membuat jalan lingkar selatan Kota Sukabumi. Jalan lingkar selatan itu semula hanya menyambungkan Jalan Palabuhan II dan Jalan Didi Sukardi sepanjang sekitar 3 kilometer. Namun, Pemprov Jabar berencana memperpanjang jalur lingkar luar Kota Sukabumi itu dari pertigaan Jalan Didi Sukardi ke batas Kota dan Kabupaten Sukabumi di bagian timur serta dari Jalan Palabuhan II hingga ke Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, di bagian barat.
Seharusnya perpanjangan jalur lingkar luar itu sudah selesai sejak beberapa tahun lalu, tetapi hingga kini masih dalam proses. “Ini menyebabkan pengembangan kawasan permukiman baru di tiga kecamatan itu tersendat karena masyarakat yang akan menempati rumah pasti menghitung waktu untuk beraktivitas,” ujar Baban.
Mundurnya penyelesaian jalur lingkar selatan itu menyebabkan masyarakat Sukabumi menunda rencana pembelian rumah di kompleks perumahan di tiga kecamatan yang menjadi basis pengembangan hunian baru itu. Kondisi ini masih diperburuk oleh belum jelasnya realisasi pembangunan ruas Tol Ciawi-Sukabumi-Cianjur-Padalarang.
Jalan tol
Inzar Firmansyah dari Bagian Legal Perumahan Sindang Palay Asri, mengaku, tanpa akses tol itu, sulit berharap bahwa perumahan di Sukabumi akan diminati warga Jakarta dan sekitarnya. “Sukabumi sebetulnya merupakan daerah transit yang menyenangkan karena udaranya sejuk dan banyak tempat rekreasi. Namun, kemacetan jalan menyebabkan orang menjadi malas ke Sukabumi,” ujarnya.
Kemacetan di beberapa titik, di antaranya Pasar Cisaat, Pasar Cibadak, sejumlah pabrik di Parungkuda, Pasar Cicurug di Kabupaten Sukabumi, serta sejumlah titik di Bogor, membuat waktu tempuh dari Ciawi ke Sukabumi yang hanya berjarak sekitar 100 kilometer itu menjadi tiga hingga empat jam, bahkan lebih, menggunakan kendaraan roda empat.
Area Business Manager Bank Internasional Indonesia Novizal Barmawi Miin mengatakan, akses infrastruktur ke wilayah permukiman baru memang amat memengaruhi prospek bisnis properti di Sukabumi. “Sejauh ini saya melihat bisnis properti di Kota Sukabumi belum terlalu bagus. Namun, saya yakin kalau akses tol itu selesai dibangun, bisnis properti pasti akan bergairah karena permukiman di Jakarta dan sekitarnya sudah sangat jenuh,” kata Novizal.
Di BII, segmen bisnis pembiayaan kepemilikan rumah hanya sekitar 10 persen dari nilai kredit yang dikucurkan. “Kalau akses tol itu terealisasi, barangkali segmen pembiayaan kepemilikan rumah ini bisa meningkat,” ungkapnya. (aha) Sumber: Kompas


